“RIKA...!” teriak seorang cewek bertubuh mungil yang berlari tergesa-gesa.
Seseorang bernama Rika pun mengangkat wajahnya dan mengalihkan sejenak pandangannya dari laptop merah jambu miliknya. Sesaat setelah mengenali sosok yang memanggil namanya, ia pun beralih kembali ke laptopnya dan membiarkan jemarinya kembali menari-nari di atas keyboard. Tak perduli si pemilik suara memasang wajah kesal atas tindakannya itu, Rika tak goyah dan terus berkonsentrasi pada layar laptop di hadapannya.
“RIKA!” cewek mungil itu kembali berteriak meski kini ia duduk tepat disamping Rika.
“hmmm,” sahut Rika dengan malas.
“Rika, dengerin aku ngomong dulu!” pinta cewek mungil itu dengan manja.
Sejenak jari-jarinya berhenti menekan-nekan keyboard. Rika memandang teman mungilnya dengan penuh permohonan agar mengerti akan situasi yang dihadapinya saat itu. Dengan rasa amat bersalah teman mungil Rika hanya bisa tertunduk perlahan dan memainkan ujung kemeja seragamnya.
“Chika... kamu kan tahu, kalo besok pagi tulisanku ini harus segera dikirim,” ujar Rika pada teman mungil yang tengah terduduk kesal di sampingnya.
“Iya iya, Chika tau. Sahabat Chika kan sibuk!” cibir Chika manja.
“Bukan begitu Chika,” ujar Rika mencoba memberi penjelasan.
Namun belum sempat Rika menyelesaikan perkataannya, Chika sudah terlebih dulu bangkit dari duduknya dan berjalan tergesa-gesa keluar kelas. Rika hanya bisa membuang nafas berat.
#%*@
“Akhirnya! Selesai juga nih esai,” tutur Rika dengan lega.
Setelah tiga jam berlalu sejak kepergian Chika, akhirnya Rika dapat menyelesaikan esainya untuk diikut sertakan dalam lomba penulisan esai tingkat SMA yang diselenggarakan LIPI secara online. Seketika itu pula terbersit dalam pikiran Rika akan insiden kepergian Chika. Dengan cepat ia mengambil telepon genggamnya mencoba untuk menghubunginya.
Tutt.... tutt.... tutt....
Suara itu terus terdengar hingga detik kelima. Hingga akhirnya Rika hanya bisa mendesah kecewa, karena nada yang terdengar selanjutnya adalah penolakan panggilan dari Chika. Seketika itu Rika pun langsung membereskan laptopnya dan beranjak pergi meninggalkan kelas. Hingga terdengar suara anak kecil berteriak-teriak dari telepon genggamnya bertanda ada panggilan masuk.
“Hallo, Chika!”sahut Rika reflek.
“Rika... ini mama sayang, bukan Chika” sambung suara wanita setengah baya diujung telepon yang berlainan.
Rika menatap layar telepon genggamnya untuk memastikan. Dan nama kontak yang tertera adalah ‘Momi’. Semilir udara kekecewaan berhembus cepat.
“Oh, iya ma. Ada apa? Tumben nelpon,” ujar Rika santai.
Lima belas menit kemudian panggilan selesai. Rika sudah hampir sampai di pintu kamar kostnya. Untuk beberapa saat Rika berdiri memandang kamar kost Chika yang terletak tiga kamar di samping kanan kamarnya. Kaca jendelanya masih tertutup gorden, menandakan si empu kamar belum pulang. Hembusan nafas berat kembali terbuang.
Matahari telah lelah manatap anak adam yang bertingkah. Perlahan pulang menuju ufuk barat dan beristirahat sejenak dibalik badan sang rembulan. Rika mencoba menghubungi kembali sahabat mungilnya. Namun nada yang diterimanya tetap sama seperti sedia kala saat ia tiba di kamarnya tiga jam yang lalu.
‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi’
Baru tiga menit yang lalu Rika menyerah untuk menghubungi Chika, dan meletakkan telepon genggamnya di atas meja belajar, kini terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas Rika bangun dari duduk santainya dan membuka pintu. Namun rasa malasnya hilang seketika ketika ia melihat sosok yanng mengetuk pintu kamarnya.
“Kamu masih marah ya?” tanya Chika cepat meski sedikit ragu.
“Jadi kamu gak marah?” Rika balas bertanya.
Sedetik kemudian keduanya tertawa geli. Rika mempersilahkan Chika untuk masuk ke dalam kamarnya dan berniat menceritakan kondisi neneknya yang dikabari mamanya.
“Jadi sebenernya tadi siang kamu mau ngomong apa Chik?” tanya Rika membuka percakapan.
“Kamu kenal kak Bonie?” Chika bertanya balik.
“Iya aku kenal. Dia itu kakak kelas kita yang lulus tahun lalu bukan? Si jenius desain?” Rika menerka.
“Yup! Bener banget! Katanya week end ini dia mau berbagi pengalaman sama kita,” tutur Chika bersemangat.
“Dia pulang ke Indonesia? Bukannya baru dua bulan yang lalu dia pergi ke New York?” tanya Rika antusias.
“Ya nggak mesti pulang juga kali. Kita akan share lewat webcam. Minggu lalu pak Yudi kirim e-mail ke kak Bonie, memintanya untuk mengajari kita tentang desain. Dan tadi siang pak Yudi mengabari aku kalo kak Bonie bersedia dan memintaku menyebar luaskannya ke anggota tim komputer sekolah. Gimana? Kamu ikut kan?” papar Chika dengan detail.
“Berarti nanti lusa ya?” tanya Rika linglung.
“Ya iyalah. Memangnya kapan lagi?” sahut Chika agak kesal.
Dengan sedikit ragu, Rika menceritakan kondisi neneknya. Neneknya sudah sakit kangker perut sejak dua bulan lalu. Namun karena kecintaannya terhadap tanah kelahiran, di desa terpencil yang jauh dari peradaban, ia tak mau berobat dan ingin menghabiskan sisa waktunya di sana.
“Aku diminta ke sana besok. Mamaku akan menjemputku malam ini” tutur Rika mengakhiri ceritanya.
Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajah Chika. Sepertinya matanya sudah panas dan ingin meluapkan emosinya. Bagaimana tidak? Bukankah berbincang dengan kak Bonie dan membicarakan desain adalah impian Rika, setidaknya untuk empat bulan ini. Ketika semuanya telah dipersiapkan, akhirnya sia-sia. Rika tidak akan datang.
“Semoga cepat sembuh, dan jangan cepat pulang!” ujar Chika ketus, lalu pergi.
Pukul satu dini hari. Rika terbangun oleh pesan singkat yang memasuki inbox telepon genggamnya. Tertulis jelas akan harapan mamanya agar ia ikut menengok neneknya kali ini, dan memintanya untuk bersiap-siap karena lima menit lagi mama dan papanya akan tiba di kostannya.
Sebelum pergi Rika mencoba membangunkan Chika untuk berpamitan. Namun sia-sia, sepertinya Chika sudah terlelap. Rika pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat sebagai permintaan ma’af dan ucapan selamat tinggal.
To: Chika
Chik, aku gak maksud buat ngecewain kamu atau gak ngehargain usaha kamu. Aku bener-bener minta ma’af. Aku harap kamu mau maafin aku. Dan aku niatnya mau berpamitan, tapi kamu sepertinya sedang tertidur lelap. Jadi aku kirim sms saja. Hehe. Dadah Chika, sampai jumpa hari Senin. Do’ain nenek cepet sembuh ya.
#%*@
Setiba di tempat kelahiran neneknya, langit rasanya belum puas menghembuskan badai cobaan pada Rika. Neneknya meninggal ketika Rika telah menciumnya untuk terakhir kali sebelum ia beranjak istirahat. Hatinya pilu melihat neneknya dibawa ke pemakaman.
Delapan jam perjalanan yang ditempuhnya harus berakhir dengan derai air mata. Mata Rika sembab setelah menangis seharian kemudian terlelap kelelahan.
Malam harinya semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Membicarakan ini itu yang sama sekali tak dimengerti Rika. Ia pun bergegas ke luar rumah mencoba mencari udara segar dan menenangkan pikirannya yang kalut. Niatan hati ingin berbagi dengan Chika melalui perbincangan telepon, ternyata harus kandas karena tak segaris sinyal pun nampak di layar telepon genggamnya. Alhasil ia hanya bisa terduduk menatap langit di beranda rumah.
“Pst! Pst!”
Sepuluh menit kemudian Rika mulai merasa takut berdiam seorang diri di beranda rumah. Ia merasa ada mata yang mengintai dan berusaha memanggilnya, namun beberapa kali ia menyapu pandangan ke sekeliling rumah hasilnya nihil. Tak ada orang selain dia.
“Pst! Pst! Kak Rika!”
Kini ada suara yang terdengar lebih jelas. Dan berahasil membuat bulu kuduk Rika berdiri semua. Kini ia memberanikan diri untuk terbangun dari duduknya dan mencari tahu sumber suara. Ketika kakinya melangkah menuju sisi kiri rumah, nafasnya tercekat melihat sosok hitam dengan tinggi sepuluh senti dibawahnya menghampirinya.
#%*@
Sejatinya matahari tak pernah menghilang. Meski di ujung kutub sekalipun. Matahari tetap ada dan tidak bertamasya kemana-mana. Kala malam datang dan menampakkan siluet rembulan yang penuh kesabaran, bumi berputar dan membuat matahari berbagi cahaya kebelahan bumi yang lain secara bergiliran dan merata. Menakjubkan? Ya dunia memamang menakjubkan, meski hanya seekor semut sekalipun. The Creator is absolutely Great!
Rika memicingkan matanya, ketika cahaya matahari pagi menerpa wajahnya untuk kesekian kalinya. Ketika ia sudah bisa mengumpulkan energi untuk menjaga keseimbangannya, Rika mencoba terbangun dari tidurnya. Betapa mengagetkan ketika ia membuka mata ternyata ada banyak pasang mata yang memenuhi kamarnya.
“Mama kak Rika! Mama kak Rika! Kak Rika sudah bangun!” teriak seorang anak laki-laki dengan gembira.
Rasanya cukup sepuluh menit untuk mama Rika menjelaskan situasi agar Rika mengerti. Anak laki-laki yang berteriak tadi ternyata sosok hitam yang mengagetkan Rika semalam dan membuatnya tak sadarkan diri.
“Namaku Boni, sekali lagi Boni benar-benar minta ma’af pada kak Rika” tutur anak laki-laki bernama Boni sembari menjulurkan tangannya ke arah Rika. Sedetik kemudian Rika pun menerima uluran tangan Boni dan tersenyum akrab.
“Kalau tersenyum kak Rika ini manis sekali. Hahaha,” ujar Boni santai.
Sedangkan Rika hanya bisa menahan agar pipinya tidak berwarna merah padam. Seketika itu suasana kamar tidur Rika menjadi riuh dengan tawa yang bersahabat. Dan membuat Rika menyadari satu hal yang mungkin akan diceritakan neneknya jika ia memiliki waktu. Orang-orang di sini ramah dan baik hati.
Dua puluh menit berlalu dengan obrolan ringan. Perlahan kamar Rika pun menjadi kembali lengang. Hanya tersisa Boni yang masih terduduk di ujung ranjang. Melihat Rika menggenggam terus telepon genggamnya, Boni menyadari sesuatu dan mengajak Rika untuk pergi berkeliling.
“Kakak semalam sedang mencari sinyal bukan?” terka Boni.
“Iya, aku ingin berbagi sesuatu dengan sahabatku,” jawab Rika pelan.
“Kakak tidak boleh murung! Ayo kita lomba lari, siapa yang lebih dulu sampai sekolah akan menjadi raja!” hibur Boni.
Tanpa sempat menawar Boni telah melesat secepat angin menuruni bukit menuju satu-satunya sekolah di desa tersebut. Rika pun tak punya banyak pilihan, ia berlari mengikuti Boni di belakang dengan menggenggam erat ranselnya.
“Raja Boni, kau menang. Host... host... apa permintaanmu?” ujar Rika sambil terengah.
“Hahaha... Kak Rika ini lucu sekali! Duduklah dulu, baru tanya apa mauku,” timpal Boni penuh canda.
Rika pun terduduk di samping Boni. Mengatur nafasnya yang terengah-engah. Reflek ia mengeluarkan telepon genggam dari sakunya. Ia lupa bahwa di desa itu minim sinyal.
“Disini belum ada sinyak kak! Kita harus duduk di atap sekolah untuk mendapatkan sinyal!” ujar Boni seakan mengerti gurat kekecewaan di wajah Rika.
“Benarkah?” tanya Rika berusaha meyakinkan diri.
“Kita coba”, ujar Boni lalu berjalan mendahului. “Isi ransel kak Rika itu apa? Sepertinya berharga sekali, kakak memegangnya erat sekali”, lanjut Boni ketika tiba di tangga kayu, pesawat sederhana yang akan mengantar Boni dan Rika ke atap sekolah.
“Ini laptop. Semacam komputer. Aku ingin membuat sesuatu dengan ini” jawab Rika.
Boni mengangguk-angguk takzim. Ia menaiki tangga kayu terlebih dulu dan membantu Rika untuk menaikinya.
Menakjubkan! Dari atas sana pemandangannya indah sekali. Hijaunya sawah bak permadani yang sengaja digelar malaikat untuk memanjakan para pengamatnya. Namun yang membuat Rika semakin gembira adalah dua buah garis kecil untuk sinyal providernya. Dalam beberapa detik kemudian mulai terdengar getaran-getaran penanda pesan masuk. Dan seperti dugaan Rika, semua pesan masuk itu berasal dari Chika. Seulas senyum pun merekah dengan perlahan.
“Banyak orang yang khawatirkan kakak ya?” tanya Boni jahil.
“Kamu ini. Kecil-kecil sudah pandai menggoda! Hahhaha,” timpal Rika.
Setelah puas membaca pesan masuk, Rika mulai mengeluarkan laptopnya dan mencoba untuk menggambarkan suasana hatinya melalui sebuah desain grafis yang tak dimengerti Boni. Namun raut wajah Rika yang sangat serius membuat Boni semakin tidak mengerti.
“Kak Rika sedang apa?” tanya Boni sangat heran.
“Membuat sesuatu,” jawab Rika sekenanya.
“Di desa ini yang ku tahu hanya ada satu komputer. Dan hanya ada di rumah kepala desa. Di sana serba ada, bagaikan surga untuk kita-kita yang udik ini. Ada komputer, telepon, buku subsidi, dan banyak yang lainnya. Biasanya kalau ada relawan-relawan yang datang praktik, mereka senang sekali pergi ke rumah kepala desa,” papar Boni menggebu.
Mendengar pemaparan terebut Rika seakan menemukan seberkas cahaya lilin dalam kegelapan gua yang panjang. Tanpa berpikir panjang, Rika tertarik ingin pergi ke sana.
Sesampainya di sana Rika langsung terampil menghubungkan kabel telepon ke laptopnya setelah mendapat izin dari kepala desa tentunya. Boni sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dilakukan kak Rika. Yang jelas Rika kembali kecewa. Boni mengintip layar laptop kak Rika dan terlihat tulisan,
‘Load Page Error’
“Ayo kita pulang Boni,” ajak Rika putus asa.
Entah anak seperti apa sebenarnya Boni ini. Ia malah tersenyum melihat tulisan yang tampak di layar laptop Rika.
“Kakak mau selancar ya?” tanya Boni santai.
“Selancar?” Rika berbalik bertanya tak mengerti.
“Surfing. Internet. Kakak mau surfing internet bukan? Desa kami ini memang amat terpencil. Jadi sulit untuk mendapatkan sinyal. Tapi jika kakak mau kita bisa membuat sesuatu seperti tiang pemancar untuk mendapatkan sinyalnya. Mau coba?” tawar Boni sopan.
Rika hanya bisa tersenyum penuh kekaguman pada anak laki-laki di depannya ini. Sedetik kemudian ia mengangguk setuju. Tak perlu banyak tempo. Tiga puluh menit saja, Rika sudah bisa berselancar di dunia maya. Matanya hampir saja akan copot keluar dari kepalanya. Dia anak desa terpencil yang terampil.
“Aku tahu ini semua dari ibu kepala sekolah, nenek kak Rika. Dia membangun sekolah di desa terpencil ini dan membuat kami mengetahui banyak hal. Katanya, kami akan jadi mutiara hitam jika terus belajar! ” tutur Boni semangat.
Angin kekaguman kembali berhembus membuat suasana hati Rika amat bagus dan membuang risau jauh-jauh. Ia segera menghubungi pak Yudi untuk sebuah misi terselubung yang tiba-tiba hadir di benaknya. Sementara Boni kembali berkata-kata.
“Sekolah kakak pasti bagus sekali tapi aku tidak iri tuh. Kakak tahu apa yang diucapkan kepala sekolah pada kami saat pertama kali sekolah dibangun?” tanya Boni.
Meski sedikit bernada menantang Rika berusaha menghadapi Boni dengan tenang. Anak laki-laki di depannya ini baru berusia empat belas tahun, dua tahun lebih muda darinya.
“Mungkin yang bisa dibangun kepala sekolah hanyalah sekolah dasar. Namun apa bedanya sekolah dasar dengan sekolah menengah? Sekolah tetap saja sekolah. Hanyalah halte dari bis buku. Hanyalah terminal bagi kondektur-kondektur guru yang berilmu luhur. Yang terpenting dalam mencari ilmu adalah pola pikir dari para pencarinya. Ibu kepala sekolah bilang, kami-kami ini adalah sopir dari perjalanan ilmu kami sendiri. Jadi sesuka kamilah akan membawa bis ini kemana saja. Akan berhenti di terminal mana saja. Yang jelas semakin jauh kita kemudikan bisnya semakin banyak pengalaman yang bisa didapatkan. Semakin banyak buku, semakin berilmu.” papar Boni dengan tulus dan beremangat.
#%*@
Keesokan harinya Rika beserta keluarga besarnya kembali ke rumah masing-masing. Dan Rika kembali bersekolah, kembali tertidur di kamar 3x4 meter yang bernuansa biru. Chika begitu antusias menceritakan ini itu, segala hal yang dialaminya saat sharing bersama kak Bonie hari sabtu lalu, saat pertama kali bertemu Rika di kelas. Namun Chika merasa heran pada sahabatnya ini, Rika terlihat tak seperti biasanya. Bukankah Rika selalu antusias dengan segala hal yang berbau kak Bonie? Mengapa sekarang tidak??
“Rika, kamu masih sedih ya?” tanya Chika hati-hati.
“Tidak juga. Ceritamu menarik. Tapi asal kamu tahu, aku juga chatting dengan kak Bonie loh..!! Malahan kak Bonie mengomentari hasil karyaku.” ujar Rika santai.
“Maksud kamu apa Rika? Bukannya di desa nenekmu tak ada internet? Bahakan kau tak meneleponku” tutur Chika heran.
“Kapan-kapan ku ajak ke sana. Ku kenalkan kamu pada Boniku”, ujar Rika pamer.
“Bonimu?” tanya Chika heran.
Ketika Rika tengah menahan tawa melihat ekspresi Chika yang kebingungan, suara pak Yudi yang masuk kelas cukup mengagetkan Rika.
“Ah, Rika! Selamat esaimu lagi-lagi lolos tahap pertama. Tunggu saja hasil penyisihan tahap kedua minggu depan. Okay?!” ujar pak Yudi bersemangat. “ O ya, satu hal lagi, Bonie bilang desain yang kau perlihatkan layak untuk diikut sertakan untuk lomba desain nusantara sekitar bulan depan. Kamu konsultasikan saja apa yang kurangnya, biar lebih maksimal lagi. okay?! Hahaha. Kalian semua harus mencontoh Rika! Jadikan teknologi sebagai media pengembangan prestasi. Jangan cuma untuk gengsi saja. Okay anak-anak!” ujar pak Yudi penuh semangat di depan kelas.
Sementara Rika hanya bisa tersenyum penuh makna di kursinya, yang terletak di sudut kanan kelas.








ya ampun terharu banget bacanya, terinspirasi bgt hehehe