Diposting oleh
GaneshaOne
Pada
07.31
Kamis, 19 April 2012
ketika suara di BB saya berbunyi terlihat tulisan Pak budi ,tentu saja pak budi yang telp kan....makanya saya angkat."hallo" ....! dan disana pun menjawab,suara berwibawa Pak Budi yang sudah terkenal meyakinkan bahwa benar yang di telp itu saya...."ini Decul....? " oh iya Pak,lalu pak budi terus-terusan nyerocos yang intinya bahwa beliau tidak bisa masuk sekolah hari ini karena sakit.
kata-kata yang saya ingat adalah bahwa materi yang akan diberikan hari ini sudah bisa di buka di e-learning sekolah,beserta daftar tugas dan tempat mengumpulkan tugasnya....dan yang bikin saya agak kesel adalah ,deadline-nya itu lho....cuma 2 jam
akhirnya sebagai ketua kelas saya ajak semua teman ke ruang laboratorium komputer untuk mengerjakan materi dan tugas yang sebelumnya sudah pak Budi Upload di E-Learning.
kami bersama membahas materi yang ada dan sangat jelas karena selain ada tutorial-nya juga disediakan contoh hasil yang sudah jadi yang tinggal kami download untuk dibandingkan hasilnya.lalu kami kerjakan tugas dan kumpulkan tugas tersebut dengan cara di upload di elearning tersebut....dan hebatnya tidak sampai 1 jam ,tugas yang kami kirimkan sudah ada nilainya di e-learning tersebut,wah hebat juga nih pak Budi,tapi saya jadi heran tadi katanya sakit,tapi bisa ngasih nilai di e-learning yah....ah bukan urusan saya.
yang menjadi bahan kesimpulan saya dari kasus di atas adalah betapa membantunya kemajuan teknologi untuk dunia pendidikan,semua terasa menjadi mudah dan bermanfaat......
Diposting oleh
GaneshaOne
Pada
17.09
Selasa, 17 April 2012
“RIKA...!” teriak seorang cewek bertubuh mungil yang berlari tergesa-gesa.
Seseorang bernama Rika pun mengangkat wajahnya dan mengalihkan sejenak pandangannya dari laptop merah jambu miliknya. Sesaat setelah mengenali sosok yang memanggil namanya, ia pun beralih kembali ke laptopnya dan membiarkan jemarinya kembali menari-nari di atas keyboard. Tak perduli si pemilik suara memasang wajah kesal atas tindakannya itu, Rika tak goyah dan terus berkonsentrasi pada layar laptop di hadapannya.
“RIKA!” cewek mungil itu kembali berteriak meski kini ia duduk tepat disamping Rika.
“hmmm,” sahut Rika dengan malas.
“Rika, dengerin aku ngomong dulu!” pinta cewek mungil itu dengan manja.
Sejenak jari-jarinya berhenti menekan-nekan keyboard. Rika memandang teman mungilnya dengan penuh permohonan agar mengerti akan situasi yang dihadapinya saat itu. Dengan rasa amat bersalah teman mungil Rika hanya bisa tertunduk perlahan dan memainkan ujung kemeja seragamnya.
“Chika... kamu kan tahu, kalo besok pagi tulisanku ini harus segera dikirim,” ujar Rika pada teman mungil yang tengah terduduk kesal di sampingnya.
“Bukan begitu Chika,” ujar Rika mencoba memberi penjelasan.
Namun belum sempat Rika menyelesaikan perkataannya, Chika sudah terlebih dulu bangkit dari duduknya dan berjalan tergesa-gesa keluar kelas. Rika hanya bisa membuang nafas berat.
#%*@
“Akhirnya! Selesai juga nih esai,” tutur Rika dengan lega.
Setelah tiga jam berlalu sejak kepergian Chika, akhirnya Rika dapat menyelesaikan esainya untuk diikut sertakan dalam lomba penulisan esai tingkat SMA yang diselenggarakan LIPI secara online. Seketika itu pula terbersit dalam pikiran Rika akan insiden kepergian Chika. Dengan cepat ia mengambil telepon genggamnya mencoba untuk menghubunginya.
Tutt.... tutt.... tutt....
Suara itu terus terdengar hingga detik kelima. Hingga akhirnya Rika hanya bisa mendesah kecewa, karena nada yang terdengar selanjutnya adalah penolakan panggilan dari Chika. Seketika itu Rika pun langsung membereskan laptopnya dan beranjak pergi meninggalkan kelas. Hingga terdengar suara anak kecil berteriak-teriak dari telepon genggamnya bertanda ada panggilan masuk.
“Hallo, Chika!”sahut Rika reflek.
“Rika... ini mama sayang, bukan Chika” sambung suara wanita setengah baya diujung telepon yang berlainan.
Rika menatap layar telepon genggamnya untuk memastikan. Dan nama kontak yang tertera adalah ‘Momi’. Semilir udara kekecewaan berhembus cepat.
“Oh, iya ma. Ada apa? Tumben nelpon,” ujar Rika santai.
Lima belas menit kemudian panggilan selesai. Rika sudah hampir sampai di pintu kamar kostnya. Untuk beberapa saat Rika berdiri memandang kamar kost Chika yang terletak tiga kamar di samping kanan kamarnya. Kaca jendelanya masih tertutup gorden, menandakan si empu kamar belum pulang. Hembusan nafas berat kembali terbuang.
Matahari telah lelah manatap anak adam yang bertingkah. Perlahan pulang menuju ufuk barat dan beristirahat sejenak dibalik badan sang rembulan. Rika mencoba menghubungi kembali sahabat mungilnya. Namun nada yang diterimanya tetap sama seperti sedia kala saat ia tiba di kamarnya tiga jam yang lalu.
‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi’
Baru tiga menit yang lalu Rika menyerah untuk menghubungi Chika, dan meletakkan telepon genggamnya di atas meja belajar, kini terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas Rika bangun dari duduk santainya dan membuka pintu. Namun rasa malasnya hilang seketika ketika ia melihat sosok yanng mengetuk pintu kamarnya.
“Kamu masih marah ya?” tanya Chika cepat meski sedikit ragu.
“Jadi kamu gak marah?” Rika balas bertanya.
Sedetik kemudian keduanya tertawa geli. Rika mempersilahkan Chika untuk masuk ke dalam kamarnya dan berniat menceritakan kondisi neneknya yang dikabari mamanya.
“Jadi sebenernya tadi siang kamu mau ngomong apa Chik?” tanya Rika membuka percakapan.
“Kamu kenal kak Bonie?” Chika bertanya balik.
“Iya aku kenal. Dia itu kakak kelas kita yang lulus tahun lalu bukan? Si jenius desain?” Rika menerka.
“Yup! Bener banget! Katanya week end ini dia mau berbagi pengalaman sama kita,” tutur Chika bersemangat.
“Dia pulang ke Indonesia? Bukannya baru dua bulan yang lalu dia pergi ke New York?” tanya Rika antusias.
“Ya nggak mesti pulang juga kali. Kita akan share lewat webcam. Minggu lalu pak Yudi kirim e-mail ke kak Bonie, memintanya untuk mengajari kita tentang desain. Dan tadi siang pak Yudi mengabari aku kalo kak Bonie bersedia dan memintaku menyebar luaskannya ke anggota tim komputer sekolah. Gimana? Kamu ikut kan?” papar Chika dengan detail.
“Berarti nanti lusa ya?” tanya Rika linglung.
“Ya iyalah. Memangnya kapan lagi?” sahut Chika agak kesal.
Dengan sedikit ragu, Rika menceritakan kondisi neneknya. Neneknya sudah sakit kangker perut sejak dua bulan lalu. Namun karena kecintaannya terhadap tanah kelahiran, di desa terpencil yang jauh dari peradaban, ia tak mau berobat dan ingin menghabiskan sisa waktunya di sana.
“Aku diminta ke sana besok. Mamaku akan menjemputku malam ini” tutur Rika mengakhiri ceritanya.
Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajah Chika. Sepertinya matanya sudah panas dan ingin meluapkan emosinya. Bagaimana tidak? Bukankah berbincang dengan kak Bonie dan membicarakan desain adalah impian Rika, setidaknya untuk empat bulan ini. Ketika semuanya telah dipersiapkan, akhirnya sia-sia. Rika tidak akan datang.
“Semoga cepat sembuh, dan jangan cepat pulang!” ujar Chika ketus, lalu pergi.
Pukul satu dini hari. Rika terbangun oleh pesan singkat yang memasuki inbox telepon genggamnya. Tertulis jelas akan harapan mamanya agar ia ikut menengok neneknya kali ini, dan memintanya untuk bersiap-siap karena lima menit lagi mama dan papanya akan tiba di kostannya.
Sebelum pergi Rika mencoba membangunkan Chika untuk berpamitan. Namun sia-sia, sepertinya Chika sudah terlelap. Rika pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat sebagai permintaan ma’af dan ucapan selamat tinggal.
To: Chika
Chik, aku gak maksud buat ngecewain kamu atau gak ngehargain usaha kamu. Aku bener-bener minta ma’af. Aku harap kamu mau maafin aku. Dan aku niatnya mau berpamitan, tapi kamu sepertinya sedang tertidur lelap. Jadi aku kirim sms saja. Hehe. Dadah Chika, sampai jumpa hari Senin. Do’ain nenek cepet sembuh ya.
#%*@
Setiba di tempat kelahiran neneknya, langit rasanya belum puas menghembuskan badai cobaan pada Rika. Neneknya meninggal ketika Rika telah menciumnya untuk terakhir kali sebelum ia beranjak istirahat. Hatinya pilu melihat neneknya dibawa ke pemakaman.
Delapan jam perjalanan yang ditempuhnya harus berakhir dengan derai air mata. Mata Rika sembab setelah menangis seharian kemudian terlelap kelelahan.
Malam harinya semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Membicarakan ini itu yang sama sekali tak dimengerti Rika. Ia pun bergegas ke luar rumah mencoba mencari udara segar dan menenangkan pikirannya yang kalut. Niatan hati ingin berbagi dengan Chika melalui perbincangan telepon, ternyata harus kandas karena tak segaris sinyal pun nampak di layar telepon genggamnya. Alhasil ia hanya bisa terduduk menatap langit di beranda rumah.
“Pst! Pst!”
Sepuluh menit kemudian Rika mulai merasa takut berdiam seorang diri di beranda rumah. Ia merasa ada mata yang mengintai dan berusaha memanggilnya, namun beberapa kali ia menyapu pandangan ke sekeliling rumah hasilnya nihil. Tak ada orang selain dia.
“Pst! Pst! Kak Rika!”
Kini ada suara yang terdengar lebih jelas. Dan berahasil membuat bulu kuduk Rika berdiri semua. Kini ia memberanikan diri untuk terbangun dari duduknya dan mencari tahu sumber suara. Ketika kakinya melangkah menuju sisi kiri rumah, nafasnya tercekat melihat sosok hitam dengan tinggi sepuluh senti dibawahnya menghampirinya.
#%*@
Sejatinya matahari tak pernah menghilang. Meski di ujung kutub sekalipun. Matahari tetap ada dan tidak bertamasya kemana-mana. Kala malam datang dan menampakkan siluet rembulan yang penuh kesabaran, bumi berputar dan membuat matahari berbagi cahaya kebelahan bumi yang lain secara bergiliran dan merata. Menakjubkan? Ya dunia memamang menakjubkan, meski hanya seekor semut sekalipun. The Creator is absolutely Great!
Rika memicingkan matanya, ketika cahaya matahari pagi menerpa wajahnya untuk kesekian kalinya. Ketika ia sudah bisa mengumpulkan energi untuk menjaga keseimbangannya, Rika mencoba terbangun dari tidurnya. Betapa mengagetkan ketika ia membuka mata ternyata ada banyak pasang mata yang memenuhi kamarnya.
“Mama kak Rika! Mama kak Rika! Kak Rika sudah bangun!” teriak seorang anak laki-laki dengan gembira.
Rasanya cukup sepuluh menit untuk mama Rika menjelaskan situasi agar Rika mengerti. Anak laki-laki yang berteriak tadi ternyata sosok hitam yang mengagetkan Rika semalam dan membuatnya tak sadarkan diri.
“Namaku Boni, sekali lagi Boni benar-benar minta ma’af pada kak Rika” tutur anak laki-laki bernama Boni sembari menjulurkan tangannya ke arah Rika. Sedetik kemudian Rika pun menerima uluran tangan Boni dan tersenyum akrab.
Sedangkan Rika hanya bisa menahan agar pipinya tidak berwarna merah padam. Seketika itu suasana kamar tidur Rika menjadi riuh dengan tawa yang bersahabat. Dan membuat Rika menyadari satu hal yang mungkin akan diceritakan neneknya jika ia memiliki waktu. Orang-orang di sini ramah dan baik hati.
Dua puluh menit berlalu dengan obrolan ringan. Perlahan kamar Rika pun menjadi kembali lengang. Hanya tersisa Boni yang masih terduduk di ujung ranjang. Melihat Rika menggenggam terus telepon genggamnya, Boni menyadari sesuatu dan mengajak Rika untuk pergi berkeliling.
“Kakak semalam sedang mencari sinyal bukan?” terka Boni.
“Iya, aku ingin berbagi sesuatu dengan sahabatku,” jawab Rika pelan.
“Kakak tidak boleh murung! Ayo kita lomba lari, siapa yang lebih dulu sampai sekolah akan menjadi raja!” hibur Boni.
Tanpa sempat menawar Boni telah melesat secepat angin menuruni bukit menuju satu-satunya sekolah di desa tersebut. Rika pun tak punya banyak pilihan, ia berlari mengikuti Boni di belakang dengan menggenggam erat ranselnya.
“Hahaha... Kak Rika ini lucu sekali! Duduklah dulu, baru tanya apa mauku,” timpal Boni penuh canda.
Rika pun terduduk di samping Boni. Mengatur nafasnya yang terengah-engah. Reflek ia mengeluarkan telepon genggam dari sakunya. Ia lupa bahwa di desa itu minim sinyal.
“Disini belum ada sinyak kak! Kita harus duduk di atap sekolah untuk mendapatkan sinyal!” ujar Boni seakan mengerti gurat kekecewaan di wajah Rika.
“Benarkah?” tanya Rika berusaha meyakinkan diri.
“Kita coba”, ujar Boni lalu berjalan mendahului. “Isi ransel kak Rika itu apa? Sepertinya berharga sekali, kakak memegangnya erat sekali”, lanjut Boni ketika tiba di tangga kayu, pesawat sederhana yang akan mengantar Boni dan Rika ke atap sekolah.
“Ini laptop. Semacam komputer. Aku ingin membuat sesuatu dengan ini” jawab Rika.
Boni mengangguk-angguk takzim. Ia menaiki tangga kayu terlebih dulu dan membantu Rika untuk menaikinya.
Menakjubkan! Dari atas sana pemandangannya indah sekali. Hijaunya sawah bak permadani yang sengaja digelar malaikat untuk memanjakan para pengamatnya. Namun yang membuat Rika semakin gembira adalah dua buah garis kecil untuk sinyal providernya. Dalam beberapa detik kemudian mulai terdengar getaran-getaran penanda pesan masuk. Dan seperti dugaan Rika, semua pesan masuk itu berasal dari Chika. Seulas senyum pun merekah dengan perlahan.
“Banyak orang yang khawatirkan kakak ya?” tanya Boni jahil.
“Kamu ini. Kecil-kecil sudah pandai menggoda! Hahhaha,” timpal Rika.
Setelah puas membaca pesan masuk, Rika mulai mengeluarkan laptopnya dan mencoba untuk menggambarkan suasana hatinya melalui sebuah desain grafis yang tak dimengerti Boni. Namun raut wajah Rika yang sangat serius membuat Boni semakin tidak mengerti.
“Kak Rika sedang apa?” tanya Boni sangat heran.
“Membuat sesuatu,” jawab Rika sekenanya.
“Di desa ini yang ku tahu hanya ada satu komputer. Dan hanya ada di rumah kepala desa. Di sana serba ada, bagaikan surga untuk kita-kita yang udik ini. Ada komputer, telepon, buku subsidi, dan banyak yang lainnya. Biasanya kalau ada relawan-relawan yang datang praktik, mereka senang sekali pergi ke rumah kepala desa,” papar Boni menggebu.
Mendengar pemaparan terebut Rika seakan menemukan seberkas cahaya lilin dalam kegelapan gua yang panjang. Tanpa berpikir panjang, Rika tertarik ingin pergi ke sana.
Sesampainya di sana Rika langsung terampil menghubungkan kabel telepon ke laptopnya setelah mendapat izin dari kepala desa tentunya. Boni sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dilakukan kak Rika. Yang jelas Rika kembali kecewa. Boni mengintip layar laptop kak Rika dan terlihat tulisan,
‘Load Page Error’
“Ayo kita pulang Boni,” ajak Rika putus asa.
Entah anak seperti apa sebenarnya Boni ini. Ia malah tersenyum melihat tulisan yang tampak di layar laptop Rika.
“Kakak mau selancar ya?” tanya Boni santai.
“Selancar?” Rika berbalik bertanya tak mengerti.
“Surfing. Internet. Kakak mau surfing internet bukan? Desa kami ini memang amat terpencil. Jadi sulit untuk mendapatkan sinyal. Tapi jika kakak mau kita bisa membuat sesuatu seperti tiang pemancar untuk mendapatkan sinyalnya. Mau coba?” tawar Boni sopan.
Rika hanya bisa tersenyum penuh kekaguman pada anak laki-laki di depannya ini. Sedetik kemudian ia mengangguk setuju. Tak perlu banyak tempo. Tiga puluh menit saja, Rika sudah bisa berselancar di dunia maya. Matanya hampir saja akan copot keluar dari kepalanya. Dia anak desa terpencil yang terampil.
“Aku tahu ini semua dari ibu kepala sekolah, nenek kak Rika. Dia membangun sekolah di desa terpencil ini dan membuat kami mengetahui banyak hal. Katanya, kami akan jadi mutiara hitam jika terus belajar! ” tutur Boni semangat.
Angin kekaguman kembali berhembus membuat suasana hati Rika amat bagus dan membuang risau jauh-jauh. Ia segera menghubungi pak Yudi untuk sebuah misi terselubung yang tiba-tiba hadir di benaknya. Sementara Boni kembali berkata-kata.
“Sekolah kakak pasti bagus sekali tapi aku tidak iri tuh. Kakak tahu apa yang diucapkan kepala sekolah pada kami saat pertama kali sekolah dibangun?” tanya Boni.
Meski sedikit bernada menantang Rika berusaha menghadapi Boni dengan tenang. Anak laki-laki di depannya ini baru berusia empat belas tahun, dua tahun lebih muda darinya.
“Mungkin yang bisa dibangun kepala sekolah hanyalah sekolah dasar. Namun apa bedanya sekolah dasar dengan sekolah menengah? Sekolah tetap saja sekolah. Hanyalah halte dari bis buku. Hanyalah terminal bagi kondektur-kondektur guru yang berilmu luhur. Yang terpenting dalam mencari ilmu adalah pola pikir dari para pencarinya. Ibu kepala sekolah bilang, kami-kami ini adalah sopir dari perjalanan ilmu kami sendiri. Jadi sesuka kamilah akan membawa bis ini kemana saja. Akan berhenti di terminal mana saja. Yang jelas semakin jauh kita kemudikan bisnya semakin banyak pengalaman yang bisa didapatkan. Semakin banyak buku, semakin berilmu.” papar Boni dengan tulus dan beremangat.
Rika hanya bisa tersenyum takzim melihat Boni. Dia memang mutiara hitam.
#%*@
Keesokan harinya Rika beserta keluarga besarnya kembali ke rumah masing-masing. Dan Rika kembali bersekolah, kembali tertidur di kamar 3x4 meter yang bernuansa biru. Chika begitu antusias menceritakan ini itu, segala hal yang dialaminya saat sharing bersama kak Bonie hari sabtu lalu, saat pertama kali bertemu Rika di kelas. Namun Chika merasa heran pada sahabatnya ini, Rika terlihat tak seperti biasanya. Bukankah Rika selalu antusias dengan segala hal yang berbau kak Bonie? Mengapa sekarang tidak??
“Rika, kamu masih sedih ya?” tanya Chika hati-hati.
“Tidak juga. Ceritamu menarik. Tapi asal kamu tahu, aku juga chatting dengan kak Bonie loh..!! Malahan kak Bonie mengomentari hasil karyaku.” ujar Rika santai.
“Maksud kamu apa Rika? Bukannya di desa nenekmu tak ada internet? Bahakan kau tak meneleponku” tutur Chika heran.
“Kapan-kapan ku ajak ke sana. Ku kenalkan kamu pada Boniku”, ujar Rika pamer.
“Bonimu?” tanya Chika heran.
Ketika Rika tengah menahan tawa melihat ekspresi Chika yang kebingungan, suara pak Yudi yang masuk kelas cukup mengagetkan Rika.
“Ah, Rika! Selamat esaimu lagi-lagi lolos tahap pertama. Tunggu saja hasil penyisihan tahap kedua minggu depan. Okay?!” ujar pak Yudi bersemangat. “ O ya, satu hal lagi, Bonie bilang desain yang kau perlihatkan layak untuk diikut sertakan untuk lomba desain nusantara sekitar bulan depan. Kamu konsultasikan saja apa yang kurangnya, biar lebih maksimal lagi. okay?! Hahaha. Kalian semua harus mencontoh Rika! Jadikan teknologi sebagai media pengembangan prestasi. Jangan cuma untuk gengsi saja. Okay anak-anak!” ujar pak Yudi penuh semangat di depan kelas.
Sementara Rika hanya bisa tersenyum penuh makna di kursinya, yang terletak di sudut kanan kelas.
SMA Negeri 1 Majalengka adalah salah satu sekolah menengah atas terbaik di Majalengka yang belokasi tepat di pusat kota Majalengka. SMA Negeri 1 Majalengka berdiri pada tanggal 1 Agustus 1961. Dari kepala sekolah definitif awal sampai dengan sekarang telah mengalami 12 pergantian. Pada saat ini SMA Negeri 1 Majalengka dipimpin oleh Bapak Drs. H. Zaenal Muttaqin, M.Pd. Sekolah ini di dukung oleh tenaga pengajar sebanyak 75 orang, dan yang ahli dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi sebanyak 10 orang. Tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Majalengka adalah sarjana lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta yang selalu berusaha untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya. Dibuktikan dengan adanya guru teladan di SMA Negeri 1 Majalengka. Siswa-siswi yang berkualitas juga menjadi modal awal untuk mengembangkan prestasi di masa depan. Prestasi yang pernah di raih oleh SMAN 1 Majalengka adalah salah satunya juara 1 pembuatan blog terindah tingkat Jawa Barat pada tahun 2010. SMA Negeri 1 Majalengka memiliki 30 ruang kelas, yang di dalamnya terdapat masing-masing sekitar 30 orang siswa sehingga total jumlah siswa di sekolah ini sekitar 900 siswa. Kesemuanya dibimbing untuk bisa berkompetisi dan berguna di masyarakat.
SMA Negeri 1 Majalengka merupakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Sebagai upaya menuju sekolah bertaraf internasional (SBI) sekolah ini mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajarannya. Sekolah ini memiliki sarana untuk mengelola dan memudahkan penyampaian pembelajaran tersebut yaitu dengan menerapkan suasana pembelajaran dan sistem pembelajaran bernuansa teknologi informasi dan komunikasi. Dapat dibuktikan SMAN 1 Majalengka memiliki 2 ruang laboratorium multimedia yang di dalamnya berisi masing-masing 30 komputer dilengkapi fasilitas jaringan internet. Selain itu suasana pembelajaran di setiap kelas telah dilengkapi sarana fasilitas IT seperti adanya in focus, proyektor, komputer, dan AC serta fasilitas wifi. Sistem pembelajaran di sekolah ini pun, berpegang pada teknologi informasi dan komunikasi. Seperti penerapan aplikasi web site, e-learning, dan aplikasi BSE (Buku Sekolah Elektronik).
Sejarah adanya aplikasi BSE di SMAN 1 Majalengka adalah sejak tahun 2009. Pada saat itu SMAN 1 Majalengka sedang merintis sebagai sekolah berstandar internasional, sehingga peranan teknologi informasi dan komunikasi menjadi prioritas utama dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebagai salah satu upaya dalam memprioritaskan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah ini, SMA 1 Majalengka menerapkan aplikasi BSE (Buku Sekolah Elektronik) dengan mengambil softcopy dari pusat BSE yaitu dari departemen pendidikan nasional.
Buku merupakan salah satu sumber belajar yang dapat membantu siswa dalam proses belajar. Menurut Sumiati (2008:149) “sumber belajar adalah bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu guru maupun siswa dalam upaya mencapai tujuan”. Sumber belajar dapat berupa buku teks, media cetak, narasumber, lingkungan, dan media pembelajaran elektronik.
Media pembelajaran elektronik adalah sumber belajar yang sedang berkembang di era globalisasi informasi ini. Sumber belajar ini, memanfaatkan information and communication technology (ICT) dalam proses pembelajarannya. Media pembelajaran elektronik adalah sumber belajar yang menggunakan modul multimedia interaktif.
Modul multimedia interaktif adalah alat atau sarana yang berisi materi, metode, batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi mata pelajaran yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Salah satu media pembelajaran elektronik yang menggunakan multimedia interaktif adalah buku sekolah elektronik. (Susilana, 2008:125).
BSE diluncurkan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2010. BSE ini merupakan upaya pemerintah dalam rangka menyediakan buku ajar yang murah bagi para siswa di Indonesia. Untuk itu Depatemen Pendidika Nasional telah membeli hak cipta dari buku-buku ajar untuk dapat didistribusikan secara murah ke masyarakat. Menurut Sangkil dalam artikelnya pada tahun 2011 menyatakan bahwa BSE terdiri dari 3 kategori, yaitu buku elektronik untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), SLTP, dan SLTA. Masyarakat dapat mengunjungi situs http://bse.depdiknas.go.id untuk mendapatkan bubu-buku tersebut.
Beberapa Temuan Tentang Dampak Internet
Samintapura (2008:125) menyatakan bahwa pembelajaran multimedia interaktif seperti aplikasi BSE ini salah satunya bertujuan: meningkatkan motivasi dan gairah belajar para siswa untuk menguasai materi pelajaran secara utuh, mengembangkan kemampuan siswa untuk dapat berinteraksi langsung dengan sumber belajar berbasis ICT, sehingga memungkinkan siswa belajar dengan mandiri sesuai kemampuan dan minatnya serta memungkinkan siswa untuk dapat mengukur dan mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.
Sependapat dengan paparan di atas diungkapkan oleh Sumiati (2008:63) bahwa siswa dapat merencanakan sendiri materi pembelajaran yang akan dipelajari, dan melaksanakan proses belajar dalam mempelajari materi pembelajaran tersebut. Kegiatan pembelajaran dapat didominasi oleh siswa, sedangkan guru hanya bersifat permisif yakni membolehkan setiap kegiatan yang dilakukan siswa dalam mempelajari apapun yang dimauinya.
BSE memungkinkan proses pembelajaran dapat dilakukan dimanapun tidak hanya di sekolah. BSE ini dapat diakses dimana saja kita memerlukannya sehingga proses pembelajaran dengan media BSE ini dapat dilakukan secara kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Pembelajaran kontekstual menurut Sumiati (2008:13) adalah “mempelajari sesuatu yang berbeda dengan orang lain” Seseorang mempelajari sesuatu karena mereka memiliki kesempatan untuk menerapkan pembelajaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran dapat dilakukan oleh seseorang pada waktu yang berbeda dengan orang lain dan tempat yang berbeda pula, seperti di rumah, di sekolah atau di masyarakat.
BSE adalah media pembelajaran bernuansa teknologi sehingga dapat menarik minat baca siswa. Kita ketahui di era globalisasi informasi ini siswa menyukai hal-hal yang bersifat teknologi. Sumiati (2008:29) mengemukakan bahwa upaya membangkitkan minat belajar khususnya kegiatan membaca, di antaranya dapat dilakukan dengan mengkaitkan materi pembelajaran dengan situasi kehidupan yang bersifat praktis benuansa teknologi. Dengan mempelajari materi pembelajran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul. Hal ini dapat terjadi karena materi pembelajaran yang sama dapat dikaitkan dengan kehidupan praktis sehingga akan memunculkan keterkaitan dengan segi-segi tertentu yang sangat beragam. Dari keragaman ini setiap siswa akan menaruh perhatian khusus pada segi-segi tertentu dari kaitan-kaitan itu. Dengan demikian, diharapkan minat untuk membaca dan mempelajarinya akan meningkat.
Temuan lainnya bahwa “Isi dari proses pembelajaran tercermin dari materi pembelajaran yang dipelajari oleh siswa”. Pernyataan ini dikemukakan oleh Sumiati (2008:11). Materi pembelajaran yang bervariasi akan meningkatkan proses belajar siswa.
Di lain pihak, menyatakan manfaat ICT terbagi secara tidak merata antar sektor-sektor dan kelompok-kelompok sosial ekonomi, antara wilayah pedesaan dan perkotaan, serta antara perempuan dan lelaki. Kemiskinan, buta aksara dan kurangnya kemampuan menggunakan komputer serta hambatan bahasa merupakan faktor-faktor yang menghalangi akses ke infrastruktur ICT, terutama di negara-negara berkembang. (http://puskowanjatitelecenter.wordpress.com/latar-belakang-proyek-ini/)
Komputer juga merupakan salah satu kebutuhan tersier. Sutarno (2009:5) mengemukakan bahwa “kebutuhan tersier adalah kebutuhan untuk kemewahan” kebutuhan tersier akan terpenuhi apabila telah memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Dapat kita bayangkan bagi orang miskin jangankan untuk memenuhi kebutuhan tersier, kebutuhan primer pun belum tentu terpenuhi.
Selain itu, komputer dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Dalam sebuah artikel mengatakan bahwa dampak negatif berlama-lama di depan komputer di antaranya: dapat mengakibatkan pembekuan pembuluh vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT).Menurut Professor Richard Beasley dari Wellington Hospital di Selandia Baru seperti dilansir The Sun, menyatakan bahwa ancaman bahaya akan menghampiri sahabat bila bekerja delapan jam tiap hari dengan hanya berkutat di sekitar meja. Kasus DVT biasanya sering dikaitkan dengan penerbangan jarak jauh yang memerlukan waktu berjam-jam. DVT adalah pembekuan darah yang terjadi pada pembuluh vena dan biasanya terjadi pada bagian betis. Jika pembekuan ini tidak dicairkan dengan obat pengencer darah, biasanya akan pecah dan terbawa ke paru-paru dan berujung pada emboli paru-paru yang mematikan. Selain itu dampak negatif lainnya adalah Komputer Vision Syndrome (CVS). Menurut Dr. Rini, penggunaan komputer dan gadget yang terlalu lama dapat menyebabkan keluhan mata dan penglihatan . Gejala dari CVS ini adalah mata merah, pedih dan berair, mata kering, mata terasa lelah, kelopak mata atau dahi terasa berat, sakit kepala atau migrain dan rasa sakit pada bahu. Ini biasanya terjadi karena sistem pencahayaan yang salah, kurang berkedip dan juga posisi duduk yang kurang benar.
Diposting oleh
GaneshaOne
Pada
09.10
Senin, 16 April 2012
Menyeret waktu kembali ke dua tahun ke belakang ketika harus memutuskan untuk memilih SMAN 1 Majalengka sebagai sekolah lanjutan ketikan lulus dari SMP ternyata sebuah keputusan yang tepat setidaknya hingga saat ini.
Dahaga saya terhadap dunia ICT sedikit banyaknya terpuaskan ketika saya mulai sekolah di my beloved School kata orang bule SMAN 1 Majalengka,karena ternyata perkembangan dan peralatan ict di sekolahku sangat menunjang rasa ingin tahu dan ketertarikanku terhadap dunia ICT.
di setiap sudut sekolah dapat kami temukan sinyal Wi-Fi yang memungkinkan kami mengakses internet dengan kecepatan yang bagus didukung oleh Tower setinggi 25 meter sehingga akses internet pun dapat kami akses dari rumah yang berada dalam radius kurang dari 10 km dengan akses terbatas yang hanya dapat di akses oleh siswa yang sudah terlebih dahulu di daftarkan sehingga memperoleh username dan password untuk login.
Dan Tunggu dulu......ini yang paling penting proses belajar menjadi sangat menyenangkan tidak jenuh karena semua dirasakan serba mudah.....mau bukti.....oke kita bahas satu persatu yah.....
Halaman Awal Menu Jardiknas
menu di atas adalah menu Jardiknas dimana halaman tersebut bisa diakses via intranet maupun internet banyak pilihan menu yang ketika kita klik akan menuju ke halaman yang dituju
Tampilan Muka E-Learning
ini adalah tampilan muka dari E-Learning SMAN 1 Majalengka ketika kita login sebagai siswa maka akan terbuka sebuah gudang ilmu pengetahuan yang amat luas yang sudah di upload bapak ibu guru sebagai media pembelajaran.Disini juga tempat kita melakukan pengumpulan tugas ,ulangan online dan chat sesama teman di sekolah.......kurang keren apa coba
Tempat Download
ScreenShot di atas adalah alamat web dimana kita bisa mendowload Driver ,Software atau pun bahan ajar tinggal pilih di klik dan download ......horrayyyyy
Digital Library
Membaca buku adalah jendela awal untuk informasi dunia so ....kita mesti sering ke perpustakaan dong....iya lah........tapi kerennya di sekolah kita itu adalah sudah DIGITAL LIBRARY jadi tinggal tulis alamatnya ato ip address nya meluncur deh kita ke dunia baca buku digital......cukup sampe sini aja....? tentu tidak ......masih uakeehhh polll
Sistem Informasi Akademik
mau tahu nilai yang sudah kalian peroleh baik itu ulangan harian atau ulangan umum bisa kok....tinggal login di SIMPAS maka semuanya bisa kita ketahui termasuk seberapa sering kita melanggar aturan sekolah.....ingat....tercatat di sini.....jadi jangan macem-macem yah
Jaringan Informasi Bersama Antar Sekolah
di dalam menu ini banyak terdapat menu lainnya antara lain menu sistem infromasi keuangan....jadi kalo kita nunggak ,ketahuan deh....oh iya JIBAS ini opensource lho kawan-kawan ( unyil mode:on)
Video SMANSA
di menu Video Smansa kalian boleh mengup-load video hasil karya kalian baik itu video yang berhubungan sama pelajaran,hasil karya seni dan lain.setelah melalui proses seleksi dari admin tentunya video kalian bisa di lihat siapapun juga.....YOUTUBE VERSI SMANSA gethu lhooo...
dan ini adalah website resmi SMAN 1 Majalengka semua informasi yang bersifat resmi tentang sekolah ada disini
so dengan adanya teknologi sangat-sangat membantu kami dalam peningkatan proses pembelajaran,walaupun kita tidak bisa menyampingkan efek negatif dari teknologi itu sendiri,tapi seperti pisau bermata dua maka orang bijak akan memilih pisau yang berguna,bukan membunuh....salam admin
Diposting oleh
GaneshaOne
Pada
06.18
Jumat, 13 April 2012
Ganesha Insan Komputer adalah Ekstrakurikuler di bidang Teknologi Informasi dan Komputer yang berkedudukan di bawah OSIS seksi keterampilan dan kewiraswastaan SMA Negeri 1 Majalengka.
Di tahun pertamanya, GIt membentuk nama angkatan yang menjadi ciri khas ekstrakurikuler ini. Nama angkatan yang pertama adalah KNOPPIX. Nama itu sendiri diambil dari nama distro Linux yang kemudian diikuti oleh generasi berikutnya. Berikut nama-nama angkatan GIt hingga saat ini.
KNOPPIX, tahun 2004
Morphix, tahun 2005
Mandriva, tahun 2006
BlankOn, tahun 2007
Fedora, tahun 2008
Zencafe, tahun 2009
Ubuntu, tahun 2010
Gentoo, Tahun 2011
Debian, Tahnun 2012
Dalam perkembangannya, GIt menjadi salah satu ekstrakurikuler yang banyak diminati oleh siswa di SMA Negeri 1 Majalengka. Maka dari mulai tahun 2006, GIt mengadakan tes bagi para calon Client-nya. kemudian, pada tahun 2008 ini, GIt menjadi 1 dari 3 ekstrakurikuler pilihan sekolah yang diwajibkan diikuti oleh kelas Standar Internasional (SI). dengan membludaknya client yang ada, maka pengurus GIt tahun 2008 mengadakan penjurusan. berikut penjurusannya.
Jurusan Hardware and Maintenance
Jurusan Designing
Jurusan Programming
Dari beberapa ECA (red:ekstrakurikuler) yang ada di sekolah kami, ada satu eca yang kami ikuti sekarang dan populer di sekolah kami yaitu GIt (Ganesha Insan Komputer). Kami akan sedikit menjelaskan sejarah singkat GIt. Bermula dari pemikiran 3 orang siswa dimana mereka berpikir untuk menciptakan sebuah wadah bagi mereka yang hobi dan juga ingin mengembangkan dirinya di bidang komputer. Lalu pada tanggal 2 Juli 2002 terbentuklah eca itu oleh 3 0rang master yaitu Master Agis, Master Edin, Master Ryan dan baru diresmikan pada tanggal 25 April 2004 melalui MuGIt (Musyawarah GIt). Ada beberapa jurusan di eca GIt ini sendiri yaitu:
1. Programming yaitu jurusan yang berhubungan dengan pemograman komputer dan yang memilih jurusan ini berkesempatan untuk mengikuti LOPI (Lembaga Olimpiade Pendidikan Indonesia) dan mengikuti Olimpiade Sains TOKI (Tim Olimpiade Komputer Indonesia)
2. Designing yaitu jurusan yang berhubungan dengan hal desain menggunakan komputer sebagai medianya.
3. Hardware yaitu jurusan yang berhubungan dengan perangkat keras di komputer.
Dari awal terbentuk sampai sekarang terdapat 9 angkatan yang telah terbentuk yaitu :
Knoppix, tahun 2004
Morphix, tahun 2005
Mandriva, tahun 2006
BlankOn, tahun 2007
Fedora, tahun 2008
Zencafe, tahun 2009
Ubuntu, tahun 2010
Gentoo, tahun 2011
Debian, tahun 2012
Nama-nama angkatan tersebut diambil dari nama-nama linux.
Sama seperti organisasi-organisasin yang lain GIt juga mempunyai kegiatan kegiatan yaitu:
1. Diklat GIt
Diklat GIt ini dilaksanakan untuk memberikan pendidikan pada client GIt baru. dilaksanakan 2 hari 1 malam dengan berbagai acara. Biasanya dibuka langsung oleh kepala sekolah. Dalam acara itu pula diberikan materi tentang keorganisasian dan lainnya sebagai modal awal untuk berkecimpung di organisasi GIt. Dalam wujud prekteknya, client GIt akan diberikan game simulasi tentang penyusunan proposal dan tahap-tahap melaksanakan suatu kegiatan. Diklat GIt ditutup dengan peresmian dan penyematan pin GIt sebagai tanda diterimanya client baru.
2. MuGIt
MuGIt (Musyawarah Ganesha Insan Komputer) adalah suatu musyawarah yang diadakan setahun sekali untuk memilih pengurus baru. Dilaksanakan sekitar semester 2 setelah penerimaan client baru. MuGIt ini diselenggarakan oleh Dewan Ganesha dan melibatkan anggota GIt dan pengurus GIt SMA Negeri 1 Majalengka sebagai ajang pertanngungjawaban atau pelaporan kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh pengurus.
Kemudian dalam musyawarah ini, anggota GIt akan memilih Dewan Ganesha baru untuk MuGIt selanjutnya. Setelah itu, Dewan Ganesha mulai menyusun program baru bersama anggota GIt yang lain untuk masa bakti pengurus yang akan datang. Acara puncaknya, anggota GIt akan memilih Leader, Vice Leader 1 dan Vice Leader 2 sebagai ketua pengurus yang akan datang
3. Buka puasa bersama
Kegiatan ini adalah suatu bentuk partisipasi GIt dalam meramaikan suasana di bulan Ramadhan. Dilaksanakan bersam kepala sekolah, pembina GIt, pembina OSIS serta diikuti oleh anggota GIt.
GIt juga merupakan salah satu organisasi yang berpestasi karena pernah meraih olimpiade komputer tingkat nasional pada tahun 2004 oleh master Yaya pada tahun 2004,setelah itu di ikuti oleh master ega dengan juara LOPI komputer tingkat kabupaten ke 2, dan di ikuti oleh master fikri dengan juara blog se kabupaten pada tahun 2009. pada tahun 2011 GIt atas nama Satrio Yamanda mendapatkan juara 1 dalam lomba blog nasional, Nexlycaps ialah sebuah grup yang menjuarai ide aplikasi. dan baru-baru ini Asep Rohmatulloh, ia mewakilkan Majalengka menjuarai lomba desain grafis dan mendapatkan juara 1, dalam hal ini semoga GIt menjadi organisasi yang berprestasi. dan masih banyak lagi juara-juara lainnya.
kami GaneshaOne, Kami adalah anak-anak cerdas berbakat dan taat dalam beragama , kami adalah calon cendikiawan-cendikiawan muda yang akan menggemparkan dunia dengan segala pemikiran keritis kami.
kami adalah siswa SMAN 1 Majalengka, SMA paling Favorite di hati kami.
----Almamaterku,Tempatku Berkarya----
Smansa adalah SMA Negeri yang cukup Favorit di Majalengka, Smansa memiliki tingkat akreditas A dan Menyandang gelar RSBI. Samansa juga adalah sekolah yang sangat mengandalkan teknologi yang cukup mantab.. :)
dari mulai Modul pembelajaran, Sampai dengan fasilitas sekolah yang disediakan pasti berhubungan dengan IT, sehingga Kami dituntut untuk mengerti dan memahami IT, sehingga dengan inisiatif kami, kami membuat sebuah ECA (Extraculicular) yang berbasis IT yang bernama GIt (Ganesha Inshan Komputer) Git adalah ECA yang terbasuk The Three Bigger ECA yang ada karena setengah Dari SMANSA Adalah Anggota dari GIt, Sekian Cuplikan Ngenaan SMANSA Sareng GIt..